Skip to main content

Posts

Featured

Politik Kewargaan dan Tarik-Menarik Demokrasi Lokal

Oleh: A. Luthfi Aziz* Contradixie, Esai— Wacana mengembalikan Pilkada tidak langsung kembali mengemuka. Efisiensi anggaran menutup ruang politik uang dan stabilitas politik menjadi dalih utamanya. Pilkada langsung dinilai terlalu mahal, menyedot banyak energi serta rawan konflik horizontal. Alih-alih menganalisisnya secara komprehensif, narasi semacam itu justru menyederhanakan bahkan mengabaikan persoalan yang lebih mendasar. Mada Sukmajati menyebut narasi Pilkada tidak langsung narasi yang “ jump to conclussion ”, yang cenderung bersifat elitis, memperkuat oligarki, dan tidak didasarkan pada pertimbangan akademis. Di pihak lain, pengembalian Pilkada melalui DPRD turut menunjukkan bukti nyata kemunduran proses demokrasi serta mengebiri kedaulatan rakyat dengan mengalienasi partisipasi warga. Partisipasi dan aspirasi warga merupakan wujud nyata dari kedaulatan rakyat. Ia menjadi sarana pertama dan utama untuk menerjemahkan kedaulatan rakyat ke dalam keputusan politik yang sah dan l...

Latest Posts

Menemukan Diri WNI dalam Novel Menyongsong Badai Karya Margarita García Robayo

Desember dan Kita yang Tergesa

MARGUERITE GAUTIER, SARTIKA, DAN RAYUAN PEREMPUAN GILA

Halal Lifestyle dan Masa Depan Wisata Medis Islami di Indonesia: Peran Branding Islam di Rumah Sakit

Keduanya tentang Paya (Nie), tapi Sebenarnya tentang Perempuan

Yang Tak (Pernah) Tumbuh

Cerita Salah Nongkrong

KAKEK DI UJUNG GANG