Memukau dan Proporsional: Mario Vargas Llosa dalam Quien Mato a Palomino Molero?

 


Sulit menyebut buku ini sebagai novel misteri. Meski judulnya menyiratkan demikian, namun aku mengira penulisnya sengaja menyamarkan tema pokok dari tulisannya. Ada banyak unsur yang kehadirannya begitu pas, proporsional, sehingga untuk menetapkannya sebagai sebuah buku misteri rasanya sedikit mengusik. Ada persoalan rasial, kelas, relasi kuasa, serta obsesi besar Letnan Silva terhadap Dona Adriana yang rasanya sedikit masuk ke dalam ranah pelecehan verbal. Keseluruhan ini pada akhirnya menyamarkan kemisteriusan cerita.

Sejak awal sebenarnya tidak sulit menebak siapa pembunuhnya. Sepertinya memang bukan itu tujuan inti dari penulis, menyimpan rapat-rapat siapa dalang di balik kematian Palomino Molero. Jika kamu orang yang cukup peka, ucap seorang kawan di suatu hari, memang tidak sulit menebaknya. Perkataannya itu tidak berkaitan dengan cerita di buku ini, namun kurasa dapat pula kutarik ke sini. Bahwa Llosa, melalui Letnan Silva, dibantu oleh kepolosan Lituma, membuat pembaca bisa dengan cepat menyadari dalang di balik kematian Palomino Molero.

Sosok Lituma dalam cerita ini diletakkan sebagai tokoh utama. Gumaman-gumamannya, deskripsi atas kepribadiannya, mengambil tempat lebih banyak dari tokoh-tokoh lainnya. Inilah yang menjadi kunci mengapa novel ini begitu menarik. Setiap kali cerita berfokus pada Lituma, setiap itu juga adegan-adegan jenaka muncul dalam kepala. Kalau saja ini diadaptasi menjadi sebuah film, bisa dipastikan Lituma dapat mencuri banyak hati penontonnya.

Bagiku, membaca buku ini bukan soal mengetahui siapa pembunuh Palomino Molero, namun gaya bercerita Mario Vargas Llosa itu sendiri yang membuatmu tidak ingin mengambil jeda. Memukau, jenaka, proporsional. Hanya ada rasa nyaman, bahagia, dan tidak ingin berhenti sebelum mencapai kalimat terakhir.

Aku tertarik pada bagian akhir cerita di mana kita dapat melihat dengan jelas penulis yang hendak menunjukkan bagaimana masyarakat telah kehilangan kepercayaan terhadap pihak berwajib. Sekalipun pada akhirnya pihak kepolisian berhasil mengungkap pembunuhan tersebut, masyarakat lebih memilih percaya pada asumsi mereka sendiri. Bagi mereka, polisi tidak lebih dari kacung orang-orang lebih gede yang ada di atasnya. Oleh karenanya apa pun hasil investigasinya, pasti sudah ada campur tangan orang-orang berkuasa. Keputusan akhir mereka sudah disetir hingga berjalan ke arah yang sesuai keinginan pihak yang memesannya.

Tentu saja butuh waktu sangat panjang untuk dapat sampai pada sikap demikian, berputus asa dan memilih memercayai sebaliknya setiap perkataan pihak berwenang. Dalam hal ini, barangkali kita seperti juga masyarakat Talara yang telah kehilangan kepercayaan pada polisi.



Aku membaca buku ini tanpa memeriksa lebih dahulu siapa penerjemahnya. Sepanjang pembacaan dibuat terkagum-kagum betapa bagus kualitas terjemahannya. Banyaknya kesalahan ketik tidak jadi soal lagi. Dan momen oalah pantasnya datang juga setelah memeriksa kolofon. Siapa lagi kalau bukan Ronny Agustinus. Terjemahannya memang selalu memukau, ya, kan?

Comments

Popular Posts