Nuzulul Quran, untuk Apa?
![]() |
DALL-E |
Contradixie, Esai — Surah yang identik dengan nuzulul Quran adalah Surah Al-Qadr (97). Ia memuat wacana tentang Al-Quran yang diberikan kepada Kanjeng Nabi. Ada yang meyakininya sebagai seluruh Al-Quran, ada juga yang sebatas lima ayat pertama Al-Quran (96:1-5). Yang jelas, Al-Quran tersebut diberikan saat malam hari dan karena ini kali pertama—layaknya apa saja yang perdana—segalanya menjadi istimewa.
Untuk menggambarkan keistimewaan tersebut,
narasi-narasi soal keunggulan-keunggulan (khairun min alfi syahr),
keberkahan-keberkahan (tanazzal al-malaikati wa al-ruhi), dan
kebaikan-kebaikan (salamun hiya hatta mathla' al-fajr) muncul. Para
penafsir, Tabari dan Ibn Katsir khususnya, mengutip banyak riwayat untuk
mengulas hal-hal tersebut bahwa di salah satu malam di Bulan Ramadan ada satu
malam yang muslim akan untung bila memperbanyak kebaikan.
Tabari menegaskan, kebaikan tersebut (min kulli
amr) tidak terbatas pada kegiatan tertentu. Ia memberi contoh, hal-hal yang
perlu dilakukan di malam-malam Ramadan—utamanya dimulai sejak malam ke-17
hingga akhir—adalah yang berkenaan dengan rezeki, takdir, dan kematian. Ibn
Katsir menambahkan kegiatan lainnya, antara lain salat, baca Quran, belajar,
dan zikir.
Menariknya, semakin ke sini, narasi min kulli amr
semakin diterjemahkan secara sempit, yaitu terbatas pada membaca Al-Quran,
zikir, dan salat. Kegiatan belajar dan yang berkenaan dengan takdir, rezeki
(ekonomi), dan kematian (sosial politik) dibuang, padahal menurutku poin-poin
yang terakhir ini lebih bisa untuk mewakili semangat dari diberikannya Al-Quran
kepada Kanjeng Nabi.
Penting dicatat, ayat-ayat dalam Surah Al-Qadr
adalah beberapa ayat dari ayat lain
dalam Al-Quran yang bicara tentang api di balik tragedi Al-Quran memilih
Kanjeng Nabi. Mereka adalah ayat-ayat Makkiyah yang bertugas untuk meyakinkan
orang-orang kafir Quraisy atau apalah sebutannya bahwa Al-Quran itu
wahyu dari Allah (75:16-19). Al-Quran bukan ucapan penyair, apalagi dukun
(69:38-52). Al-Quran adalah kebenaran (69:51).
Dalam bayanganku, apa yang Kanjeng Nabi pikirkan
ketika beliau menerima Al-Quran adalah bagaimana bisa bertahan dari orang-orang
kafir tersebut. Orang-orang ini telah melampaui batas (96:6-7). Memperkaya diri
sendiri (102:1-8). Menindas (107:1-6). Meyakini tidak ada yang akan bisa
menjatuhkannya. Meyakini uang bisa membeli semuanya (104:1-9). Pongah dan
sebagainya (74:11-31), sehingga perlu dilawan.
Seribu tahun berlalu dan api nuzulul Quran
yang menyelimuti perlawanan Kanjeng Nabi tersebut telah padam. Hari ini, nuzulul
Quran direndahkan sekadar untuk membaca Al-Quran. Yang nyenengke adalah
Kemenag. Pada 7 Maret 2025, Kemenag mengeluarkan SE tentang Indonesia Khataman
Al-Quran. Semua yang bekerja di bawah Kemenag—mulai dari dosen-dosen,
guru-guru, hingga penyuluh—dibebani untuk membaca 1-3 Juz Al-Quran untuk
memeringati Nuzulul Quran pada Minggu (16/3).
Orang-orang ini sedang mual pada para pemimpinnya.
Setiap hari mereka dijejali berita pejabat maling, pemangkasan anggaran,
tunjangan tidak cair, biaya pendidikan mahal, pertamax palsu, minyak
goreng oplosan, elite politik foya-foya, anak-anak pejabat dapat giveaway
jabatan, RUU TNI, dan tiba-tiba dibebani m.e.m.b.a.c.a Al-Quran. Di hari Minggu
lagi. Tidak dihitung lembur lagi. Kemenag memang selalu menarik.
Aku yakin, sebetulnya Kemenag punya ide-ide lain
untuk merayakan nuzulul Quran, seperti khataman menghukum pejabat-pejabatnya
yang bermewah-mewahan; khataman menyisir para bawahan yang jelas-jelas telah
maling dan memasukkan sanak saudara ke lingkungan Kemenag dan menghukumnya
dengan kejam; khataman melayangkan doa-doa paling kejam bagi para pemimpin yang
perilakunya seperti para kafir Quraisy yang dilawan oleh Kanjeng Nabi,
mumpung ada banyak malaikat sedang santai di langit dunia; khataman merevisi
doa-doa yang beredar di Indonesia yang masih menggunakan narasi “jagalah para
pemimpin kami”; dan sebagainya.
Namun, Kemenag bukan Nabi. Orang-orang yang di
dalamnya pun para orang tua yang sendu. Pejabatnya pun ita-itu saja.
Bawahannya juga dari anak-anaknya sendiri. Jadi, ya begitulah.—zv
Comments
Post a Comment